|
Sempat Mau Bangkrut, Mitra Tani 27 Kini Kuasai Pasar Jepang
Senin, 30 Januari 2012 10:10:10 WIB
Reporter :
Oryza A. Wirawan
Jember (beritajatim.com) - PT Mitra Tani 27 kini menjadi eksportir kedelai edamame asal Jember, Jawa Timur, yang menguasai pasar Jepang. Namun sebelumnya perusahaan ini nyaris bangkrut.
Menurut catatan perusahaan, tahun 2011, produksi edamame mencapai 5.000 ton. Sekitar 90 persen dari produksi itu memenuhi keinginan konsumen di Jepang. Tahun 2012, ada peningkatan produksi menjadi 6.500 ton. Serapan pasar dalam negeri sendiri sekitar 700 ton dalam satu tahun.
Tahun lalu, luasan lahan budidaya 850 hektare, dan ttahun ini seribu hektare. Tahun 2011, nilai ekspor kedelai edamame 4 juta Dollar AS. Tahun 2012, ditargetkan nilai ekspor mencapai 5 juta Dollar AS. Selain edamame, kedelai mukimame akan mulai diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat.
Tahun 2011, Taiwan menguasai 30 persen pasa di Jepang. Berikutnya adalah Mitra Tani, Thailand, dan China. "Tapi produksi di Taiwan kurang, sehingga disuplai dari kami. Mereka beli kepada kami, dikemas, lalu dikirim ke Jepang. Artinya, kita tidak kalah secara produksi dengan Taiwan," kata Direktur PT Mitra Tani, Heri Budiarto.
Kisah sukses Mitra Tani ini berkebalikan dengan apa yang terjadi beberapa tahun silam. Mitra Tani didirikan oleh PT Perkebunan 27 (sekarang PTP Nusantara 10). Berawal dari fenomena susutnya lahan tembakau Besuki Na oogst dari 25 ribu hektare menjadi belasan ribu hektare pada pertengahan 1980-an.
"Lalu kami berusaha mencari komoditas pengganti. Tahun 1992 awal, ada pengusaha Jakarta membawa benih edamame (dari Jepang)," kata Hari Soewanto, penasihat Mitra Tani 27.
Belum banyak dikembangkan di Indonesia, pada tahun 1992-1994, PTP 27 tertarik melakukan uji coba pengembangan. Ini teknologi pengawetan dengan pembekuan. "Edamame dalam bahasa Indonesia sendiri artinya kedelai sayur. Ia sesungguhnya tumbuh di daerah sub tropis 4 musim. Akhirnya, dicarilah daerah yang cocok," kata Hari.
Namun upaya menegakkan Mitra Tani 27 tak selamanya mulus. Ini cerita 15 tahun silam. Pasokan dana dari PT Bahana Artha Ventura, sebuah anak perusahaan PT. Bahana Pembinaan Usaha Indonesia yang memfokuskan diri pada pengembangan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) dan koperasi, sempat terhenti.
Ini dikarenakan perusahaan tidak tumbuh. "Pada dasarnya karena kita zero growth, modal kita breaking dari PT Bahana untuk kita putar. Biaya administrasi yang membebani bertambah. Tapi yang utama produksi masih rendah, hanya dua ton waktu itu," kata Heri Budiarto.
Mitra Tani sempat tiga kali hendak ditutup. Bahkan, perusahaan ini sempat masuk pengawasan BPPN, karena pada krisis 1998 utang menumpuk. "Ada anggota DPR yang datang ke Jember waktu itu, untuk melihat. Akhirnya, tidak jadi ditutup, karena melihat ratusan pekerja perusahaan. Serapan tenaga kerja yang banyak membuat PTPN 10 dan PT Bahana tetap memberikan support, alhamdulillah," kata Hari Soewanto. [wir]
|