Jember (beritajatim.com) - Hasil kajian tiga orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember menunjukkan, bahwa HIV/AIDS bisa dideteksi melalui cairan gusi dengan menggunakan Microfluidics Chip.
Tiga mahasiswa angkatan 2010 yang melakukan kajian literatur itu adalah Ahmad Syaifuddin, Alex Willyandre, dan Khoirul Anam. Ide awal mendeteksi HIV/AIDS melalui cairan gusi itu berawal dari kondisi penderita HIV/AIDS sendiri.
"Tanda-tanda seseorang menderita HIV/AIDS bisa diketahui melalui kondisi rongga mulutnya. Penderita HIV/AIDS memiliki masalah dengan gusinya, dimana gusi tersebut membengkak dan merah karena infeksi," kata Syaifuddin, sebagaimana dilansir Humas Unej, Jumat (29/6/2012).
Mendeteksi itu tentu butuh alat. Setelah melakukan studi literatur kurang lebih selama seminggu, mereka bertiga menemukan, bahwa alat Microfluidics Chip temuan Prof. Samuel Sue dari Columbia University, Amerika Serikat dapat digunakan untuk melakukan tes HIV/AIDS. Sebelumnya Microfluidics Chip lebih sering digunakan untuk tes penyakit kelamin dan penyakit lainnya, namun belum untuk HIV/AIDS.
Semua gagasan itu dituangkan dalam makalah berjudul "Inovasi Microfluidics Chip Berbasis Nucleic Acid Testing Sebagai Detektor Antibodi HIV-1 Pada Gingival Crevicular Fluid". Hasil kajian mereka berhasil menyabet juara pertama dalam ajang Literatur Review, dalam rangka Dentistry Scientific Meeting (DSM) VI 2012 yang digelar oleh FKG Universitas Indonesia, 21 Juni 2012 lalu, di Jakarta.
"Ternyata dengan menggunakan Microfluidics Chip, deteksi gejala HIV/AIDS bisa dilakukan dengan lebih mudah, murah dan cepat," kata Alex.
Cara deteksi sederhana. Tinggal mengambil cairan gusi pasien tersebut dan menempelkannya pada Microfluidics Chip. "Beda dengan metode ELISA dan Westren Blot yang harus mengambil darah pasien. Jadi pengambilan sampel ini bisa dilakukan dimana saja, tidak harus di klinik atau rumah sakit," tambah Syaifuddin.
Jika Microfluidics Chip berubah warna menjadi biru setelah ditetesi cairan gusi, maka dapat dipastikan si pasien positif HIV/AIDS. Hasil tes ini pun dapat diketahui dengan cepat, cukup dalam waktu kurang dari lima menit. Ini jauh lebih cepat dibandingkan metode ELISA atau Western Blot yang membutuhkan waktu 24 jam.
Metode tes HIV/AIDS dengan Microfluidics Chip juga lebih murah. Satu buah Microfluidics Chip harganya satu dollar AS atau sekitar R[ 10 ribu. "Pasien pun bisa melaksanakan tes di rumah. Penggunaannya mirip-mirip alat tes kehamilan," kata Syaifuddin. [wir]