|
Gawat! Difteri Serang 37 Daerah, 550 Orang Terkapar
Minggu, 29 Juli 2012 20:18:18 WIB
Reporter :
Rahardi Soekarno J.
Surabaya (beritajatim.com) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jatim mencatat hingga akhir pekan ini, jumlah penderita Difteri di Jatim meningkat tajam. Artinya, serangan wabah Difteri di Jatim semakin menggila.
Ini terbukti pada 3 Juli 2012 lalu, jumlah penderita masih sebanyak 515 orang, kini data terakhir pada Jumat (27/7/2012) menjadi 550 orang. Sedangkan, korban meninggal dunia, tidak ada perubahan alias tetap 23 orang.
Padahal, status kejadian luar biasa (KLB) Difteri sejak tahun 2011 lalu belum dicabut.
Kadinkes Provinsi Jatim dr Budi Rahaju, Minggu (29/7/2012) mengakui, adanya kenaikan jumlah pasien penderita Difteri di Jatim. "Memang jumlah penderitanya semakin banyak. Meski begitu kami terus berusaha agar penderita bisa ditangani lebih baik. Sehingga, bisa menekan angka kematian," kilahnya.
Saat ini, pihaknya terus melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk mewaspadai bahaya serangan Difteri. Caranya, dilakukan imunisasi terutama pada anak-anak. "Kami terus melakukan imunisasi dengan sasaran anak di bawah usia 15 tahun yang saat ini rawan terhadap serangan Difteri. Dan bagi mereka yang terkena segera dibawa ke rumah sakit terdekat," katanya.
Sedangkan terkait anggaran, dia mengatakan, pihaknya masih mengacu pada anggaran di APBD Provinsi Jatim sebanyak Rp 1 miliar. Sementara, bantuan anggaran dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga kini belum turun.
Adapun, daerah yang mendapatkan serangan Difteri terdapat pada 37 daerah dari 38 kabupaten/kota se-Jatim. Sedangkan satu daerah yang belum diketahui soal adanya serangan difteri adalah Kabupaten Bojonegoro. Pasalnya, sampai sekarang Bojonegoro belum melaporkan kasus tersebut ke Dinkes Jatim. "Saya tidak tahu apakah di sana banyak penderita Difteri atau tidak, karena hingga sekarang belum ada laporan ke Dinkes provinsi," ungkapnya.
Sedangkan daerah yang paling banyak terkena serangan difteri di antaranya adalah Situbondo, Jombang dan Bangkalan. Di sana itu rawan terserang karena penduduknya banyak yang belum diimunisasi. Surabaya sendiri juga termasuk 10 besar daerah yang terkena difteri karena banyaknya penduduk musiman.
Dengan demikian terjadi mobilitas penduduk yang tinggi sehingga mengakibatkan terjadinya penularan. Di bandingkan dengan KLB tahun 2011 lalu, serangan difteri tahun 2012 ini tergolong lebih gawat karena banyak menelan korban jiwa.
Jika pada tahun lalu dengan rentang waktu setahun, jumlah penderita difteri sebanyak 665 orang dan yang meninggal sebanyak 19 orang.
Sedangkan tahun ini, dalam rentang waktu 7 bulan jumlah penderita 550 orang dan meninggal 23 orang. Untuk diketahui difteri sendiri adalah infeksi bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae, yang biasanya mempengaruhi selaput lendir dan tenggorokan. Difteri umumnya menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas. Dalam tahap lanjut, difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf.
Kondisi seperti itu pada akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian. Tanda dan gejala difteri meliputi, sakit tenggorokan dan suara serak, nyeri saat menelan, pembengkakan kelenjar (kelenjar getah bening membesar) di leher, dan terbentuknya sebuah membran tebal abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel, sulit bernapas atau napas cepat, demam, dan menggigil. [tok/but]
|