|
Infotainment Menjengkelkan, Tapi Jangan Dilarang
Sabtu, 26 Desember 2009 11:34:36 WIB
Reporter :
Oryza A. Wirawan
Jember (beritajatim.com) - Andreas Harsono, jurnalis dan aktivis hak asasi manusia, menyatakan acara infotainment bukanlah jurnalisme. Ia tak setuju jika Departemen Komunikasi dan Informasi melarangnya.
"Infotainment memang menjengkelkan sekali, dan aku (wartawan) keberatan jika disamakan dengan mereka (pekerja infotainment). Tapi jika Menkominfo mau melarang (infotainment), aku akan lawan," kata Andreas, Sabtu (26/12/2009).
Andreas konsisten melawan segala bentuk penyensoran informasi oleh negara. "Manusia punya naluri untuk menggosip. Kalau aku pulang kampung, misalnya, maka tentu aku tanya-tanya bagaimana kabar tante ini, om itu, bagaimana kesehatannya, ada cerita apa," katanya.
Artinya, pilihan-pilihan diserahkan kepada masyarakat sendiri: apakah masyarakat masih mau menonton acara infotainment atau tidak. Masyarakatlah yang nanti akan menentukan apakah acara infotainment dalam bentuknya yang sekarang bisa tetap hidup atau akan tergusur zaman.
Menurut Andreas, hal yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pekerja infotainment bukanlah jurnalis. Infotainment bukanlah jurnalisme. "Jurnalisme adalah untuk memberi informasi kepada masyarakat agar masyarakat dengan informasi itu bisa mengambil keputusan dalam hidupnya. Nah, berita Dhani sama Maia cerai atau Cici Faramida cerai sama suaminya, apa ada sangkut pautnya dengan kehidupan kita," katanya.
Karena infotainment bukanlah jurnalisme, maka organisasi profesi wartawan tak perlu menjadikan pekerja infotainment sebagai anggota. "PWI (Persatuan wartawan Indonesia) aneh mau menjadikan mereka anggota. Mengganggu privasi masih dibela lagi," kata Andreas.
Andreas mencontohkan para paparazzi (pemburu berita dan foto sensasional artis) di luar negeri. 'Mereka tidak diakui organisasi wartawan manapun. Jadi ketika mereka bermasalah, tidak ada yang melindungi. Kalau mereka tak dilindungi organisasi wartawan, kekuatan mereka jauh berkurang," katanya.
Andreas juga menyerukan kepada stasiun-stasiun televisi untuk meletakkan acara infotainment tidak di bawah divisi berita. "Masukkan saja dalam divisi program," katanya. [wir] |