|
Alamak... Dana Persibo Rp 2 Miliar Raib
Rabu, 01 Juli 2009 14:34:53 WIB
Reporter :
Abdul Qohar
Bojonegoro (beritajatim.com) – Sungguh diluar dugaan, dana Persibo Bojonegoro yang diberikan oleh KONI Bojonegoro pada Maret 2008 lalu ternyata bermasalah. Sebab total pencairan pertama Rp 5 miliar, hanya diterima oleh manajemen Rp 3 miliar. Namun lebih gila lagi, pelaporan yang dibuat tetap Rp 5 miliar karena adanya intervensi beberapa pihak.
Data yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Rabu (1/7/2009) menyebutkan, dana yang diterimakan pada 31 Maret 2008 lalu ada selisih Rp 2 miliar. Selisih tersebut tidak ada penggunaannya oleh Persibo, namun manajemen tetap melaporkannya dengan jumlah seperti itu.
Apakah Rp 2 miliar hanya berupa laporan palsu? Sejauh ini beberapa pihak mengkalim akan menelusuri aliran dana yang hilang, namun tetap terpaksa dilaporkan. Sebab, kalau tidak ada pelaporan maka dana pencairan selanjutnya tidak akan bisa dilakukan oleh Manajemen Persibo Bojonegoro.
Tidak jelasnya penggunaan dana Rp 2 miliar dari APBD Bojonegoro tersebut setelah adanya audit dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Asisten Manajer Persibo Bidang Keuangan Abdul Mun'im membenarkan, kalau dana yang diterimanya adalah Rp 3 miliar dari total Rp 5 miliar. Namun, karena ada kepentingan untuk mencairkan dana selanjutnya ke KONI Bojonegoro, maka laporan harus tetap dilakukan dengan total Rp miliar.
Laporan tersebut dilakukan sebelum Manajer dijabat Letkol (Inf) Dadang Henderayuda atau tepatnya saat dijabat oleh Letkol (Inf) Kup Yanto Setiono.
Ada instruksi khusus yang diberikan oleh para petinggi Persibo Bojonegoro untuk bagian keuangan, agar membuatkan laporan sesuai dengan jumlah Rp 5 miliar. Akhirnya, pihaknya melakukan sejumlah langkah-langkah, termasuk memasukkan gaji pemain walaupun sebenarnya tidak ada pembayaran. "Yang pasti, kami tidak pernah menggunakan dana yang Rp 2 miliar tersebut," katanya.
Diterangkan, untuk mensiasati agar tetap pada jalurnya, maka pihaknya akan tetap ikut menelusuri kemana aliran dana tersebut. Yang pasti, semua bukti pencairan mulai tahap satu Rp 5 miliar, tahap dua Rp 3 miliar, tahap tiga Rp 3 miliar dan terakhir Rp 1,5 miliar, semuanya ada bukti konkrit. "Yang bermasalah dan memang tidak sesuai hati nurani saya adalah yang pencairan pertama, Rp 5 miliar. Sebab, hanya digunakan Rp 3 miliar, tetapi laporannya diminta Rp 5 miliar," lanjutnya.
Oleh karena itu, dirinya siap jika sewaktu-waktu dicrosschek oleh pihak yang berwajib. Karena, bukti pencairan semuanya lengkap dan memang setelah diterima penuh uang kembali dimintai oleh atasan. [dul/kun]
|