Sumenep (beritajatim.com) - Unjuk rasa 50 mahasiswa Sumenep yang merupakan gabungan dari Forum Komunikasi Mahasiswa Sumenep (FKMS), Kesatuan Mahasiswa Kangean Indonesia (KMKI), Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Raas (GPMR), Kaukus Mahasiswa Sumenep (KMS), dan PMII komisariat Unija ke kantor Pemkab setempat, Selasa (26/06/12), menuntut peningkatan pelayanan transportasi laut, berlangsung ricuh.
Mahasiswa dan polisi terlibat bentrok, saat mahasiswa memaksa menerobos pagar, masuk ke Pemkab untuk menemui Bupati.Polisi berupaya memukul mundur mahasiswa, agar menjauh dari pagar. Saling dorong pun terjadi.
"Pak polisi, kami jangan dipukul. Kenapa kami ditendang? Kami cuma ingin bertemu Bupati!" teriak Eko Wahyudi, salah satu pengunjuk rasa.
Mahasiswa kemudian membakar poster-poster bertuliskan protes, sambil terus meneriakkan 'yel-yel' agar Bupati keluar menemui mereka.
"Kami menuntut perbaikan infrastruktur transportasi laut. Saat ini tidak ada kapal ke Kangean. Penumpang terlantar," kata Suryadi, salah satu orator.
Menurutnya, sangat tidak adil jika selama ini kekayaan sumber daya alam di kepulauan berupa migas, dikeruk tapi tidak ada kontribusi untuk masyarakat. "Lebih baik hentikan ekplorasi dan ekploitasi migas kalau masyarakat tidak bisa menikmati hasilnya!" teriak Suryadi.
Mahasiswa mempertanyakan dua kapal milik Pemkab yakni DBS I dan DBS II yang dikelola PT Sumekar Line, salah satu BUMD Sumenep, sudah satu bulan ini tidak beroperasi. "Kenapa tidak beroperasi. Katanya pailit. Itu tidak masuk akal. Jangan anak tirikan warga kepulauan. Pemerintah harus bertanggungjawab!" tandas Suryadi.
Mahasiswa masih berupaya bertahan di depan pintu pagar Pemkab sambil mendorong-dorong pagar, meminta agar Bupati keluar menemui mereka. [tem/kun]