Dibalik Cerita Haru Kecelakaan Beruntun di Kediri
Kenangan Terakhir Makan Ikan Bakar di Pasir Putih
Jum'at, 06 Juli 2012 15:14:39 WIB
Reporter :
Nanang Masyhari
Kediri (beritajatim.com) -- Jenda adalah satu-satunya penumpang mobil Toyoya dengan nomor polisi (nopol) Inova BK 1192 KI yang selamat dalam kecelakaan beruntun di simpang empat Mataram Timur, Jl. Mayor Bismo, Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota Kediri, Jumat (06/07/2012) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari tadi. Istri dan dua anaknya tewas bersama dua orang sopirnya.
Pemilik nama lengkap Jenda Ingan Mahuli Kataren (48) ini salah satu dosen di Universitas Muhammadiyah Aceh. Ketika beritajatim.com datang di Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Kediri, dari balik pintu ia terlihat sedang duduk lesu di atas kursi pastik warna hijau. Tatapan matanya tertuju pada tiga jasad berkain kafan putih yang terbujur berjajar.
Ya, jasad tersebut adalah milik Yulia Sari (38) istri tercintanya dan dua anak gadisnya, Belia Tamia Graci Kataren (17) dan Tasya Amalia Taron (12). Shock, terpukul dan bersedih, demikian gambaran perasaan yang berkecamuk di dalam hati Jenda.
Bagaimana tidak. Sehari sebelumnya, Jenda masih bisa berkumpul bersama, bersukaria dalam nuansa keluarga untuk menikmati masa libur sekolah di Pulau Bali. Tetapi, hari ini ia harus berpisah. Ia kehilangan orang-orang yang ia cintai untuk selama-lamanya. "Tidak ada firasat apapun. Kami sangat bahagia. Bahkan, ketika magrib kami singgah di sebuah pantai pasir putih lewat daerah Situbondo. Usai sholat, kami makan ikan bakar bersama. Anak-anak terlihat sangat lahap makannya. Itu adalah kenangan terakhir kami," kenang Jenda, Jumat (06/07/2012). Sembari bercerita, air mata jenda pun keluar.
Jenda berjalan keluar dari kamar jenazah ketika Kapolres Kediri Kota, AKBP Ratno Kuncoro datang beserta anggotanya. Hand phone (HP) miliknya tidak lengang dari panggilan. Sanak saudara dan rekan kerjanya yang ada di Aceh Selatan berkali-kali menghubungi. Itu yang membuatnya tambah bersedih. Dia mengalami musibah, ketika berada di tempat yang jauh dari keluarga. "Anak-anak yang mengajak supaya cepat pulang. Mereka harus masuk sekolah pada Senin yang akan datang. Sementara kami tidak mungkin berangkat mepet. Karena biasanya, kami mampir dulu di Jakarta. Disana kami menginap selama dua hari, lantas kembali ke Aceh," imbuh Jenda.
Jenda masih ingat ketika Yulia Sari, istrinya meminta Khairul Fadli (28), sopirnya untuk mengurangi kecepatan mobilnya. Tetapi, Khairul justru mengabaikan. Istrinya sempat gelisah tidak bisa tidur karena mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Sampai akhirnya bertabrakan dengan Truk Kontener nopol L 8767 UR memuat 22 ton tepung yang disopiri Imam Syafii asal Bungurasih Utara, Waru, Sidoarjo dari arah utara ke selatan tersebut.
" Brak..!!sebenarnya kami bisa selamat. Tetapi kemudian peti kemas itu menimpa mobil kami. Kebetukan saya berada di sebelah kiri, tidak tertimpa. Saya bisa keluar. Saya sentuh istri saya, yang berada tepat dibelakang saya, ternyata masih bernafas. Saya berusaha mengeluarkannya. Saya meminta tolong, tetapi warga di sekitar hanya menonton, seperti tontonan gratis. Padahal, saya sudah panik sekali," terang Jenda
Jenda meminta pertolongan warga supaya mengambil parang atau senjata tajam lainnya yang berukuran besar untuk memecahkan kaca mobil dan mengambil tubuh istrinya. Tetapi, katanya, warga hanya bisa melihatnya tanpa bisa berbuat banyak. Jenda tidak berputus asa, dia terus mencari cara untuk mengeluarkan istrinya. Sampai akhirnya datang mobil derek dari Kabupaten Nganjuk.
Polisi sengaja mendatangkan mobil derek dari Kota Angin karena mobil derek yang ada di Kediri dipergunakan untuk mengevakuasi korban kecelakaan di Kabupaten Tulungagung, pada waktu itu juga. Setelah memakan waktu kurang lebih tiga jam akhirnya, korban berhasil dikeluarkan dari mobil. Tetapi, keempatnya sudah dalam keadaan meninggal dunia.
" Kalau bisa ditolong dengan cepat, saya yakin anak dan istri saya masih bisa selamat. Tetapi masyarakat tidak ada yang mau membantu. Tidak seperti di Medan. Kalau ada kecelakaan seperti itu, warga bahu membahu membantu. Lihat saja luka di tubuh istri dan anak saya, hanya memar-memar di pipi saja. Artinya, karena terlalu lama itu, sehingga mereka tidak bisa bertahan," sesal Jenda.
Jenda meminta supaya jenasah istri, kedua anaknya dan dua orang sopirnya bisa dibawa pulang hari ini juga. Selain itu, dia berharap sopir truk kontainer dan pemilik perusahaan tepung terigu bertanggung jawab atas kejadian ini. Dia berjanji akan membantu Polres Kediri Kota, dengan memberikan keterangan yang benar dalam kasus itu.
Sebagaimana diberitakan, kecelakaan beruntun terjadi simpang empat Mataram Barat. Mobil Toyota Inova melaju dari arah timur ke barat dengan kecepatan tinggi. Setibanya di TKP, tiba-tiba dari arah utara truk kontainer bermuatan 22 ton tepung terigu. Karena jarak terlalu dekat, akhirnya terjadi kecelakaan.
Truk kontainer yang telah menabrak Inova baru berhenti setelah menerjang sebuah mobil panther yang disopiri Hadi Biantoro, warga Banaran, Kota Kediri yang datang dari arah berlawan. Sementara kontainer seberat 34 ton tersebut langsung menimpa Inova. Sehingga menyebabkan lima orang penumpang Inova tewas di lokasi.[nng/ted]
|