Kamis, 19 Januari 2017

Eksepsi Ditolak, Sidang Bekas Dirut Empire Dilanjutkan

Rabu, 11 Januari 2017 23:41:50 WIB
Reporter : Nyuciek Asih
Eksepsi Ditolak, Sidang Bekas Dirut Empire Dilanjutkan

Surabaya (beritajatim.com) - Majelis hakim PN (Pengadilan Negeri) Surabaya yang diketuai Unggul Murti menolak eksepsi yang diajukan terdakwa kasus pencurian dokumen milik PT Blauran Cahaya Mulia (BCM) Trisulowati alias Chin Chin, Rabu (11/1/2107).

Dalam putusan sela, hakim Unggul menyebut jika keberatan atas dakwaan yang diajukan pihak terdakwa melalui kuasa hukumnya Pieter Talaway telah masuk materi perkara sehingga perlu diuji dalam persidangan.

"Menolak keberatan atas dakwaan yang diajukan terdakwa dan memerintahkan Jaksa Penuntut Umum untuk mendatangkan saksi-saksi," ujar hakim Unggul.

Terpisah pelapor Gunawan Angka Widjaja melalui kuasa hukumnya Teguh Suharto Utomo menyatakan, pertimbangan Hakim tentang tanggapan eksepsi Jaksa sudah tepat dan benar. Sebab eksepsi dari Kuasa Hukum Chin-Chin sudah masuk materi perkara yang harus dibuktikan di sidang Pokok Perkara.

"Jangan memaksakan kehendak yang kurang baik apalagi membentuk opini-opini yang berujung merugikan kliennya sendiri nantinya," ujar Teguh.

Perkara ini, lanjut Teguh, sudah jelas pidana tapi masih ditutup-tutupi menjadi perkara suami istri. Harusnya, menurut Teguh, Kuasa Hukum paham dan mengarahkan kliennya berbuat baik dan jujur.

"Ini adalah persoalan hukum, lebih baik kita beradu secara hukum dengan mengungkap fakta. Jangan ngomong hal-hal di luar hukum karena itu bisa menjadi fitnah dan bisa menimbulkan persoalan hukum yang baru," ujarnya.

Sementara Ronald Talaway kuasa hukum Chin Chin juga menyambut baik putusan hakim. Menurut dia, pihaknya sudah menyiapkan bukti untuk dibawa ke persidangan.

Perlu diketahui, Chin Chin menjadi pesakitan karena ulahnya yang mencuri dokumen milik PT Bluaran Cahaya Mulia (BCM). Pada 15 Pebruari 2016, saat itu saksi Gunawan Angka Widjaja selaku komisaris PT BCM mengetahui adanya debt colector dari suplayer PT BCM yang melakukan penagihan kepada Agus Suhendro selaku Direktur PT BCM dan terdakwa selaku Dirut sekaligus isteri Gunawan sebesar Rp 700 juta.

Padahal selama ini, PT BCM sepengetahuan Gunawan tidak pernah mempunyai tunggakan hutang selama setahun yang tidak dibayar kepada pihak lain. Sehingga Gunawan menanyakan pada terdakwa kenapa sampai nunggak selama setahun dan dijawab oleh terdakwa tidak ada uang, biar saja saya dan Agus Suhendro yang pasang badan itu jawaban terdakwa.

Sehingga Gunawan mengatakan tidak bisa, selama Gunawan masih kerja tidak mau kerja seperti ini. Selanjutnya, Gunawan menanyakan berapa tunggakan yang belum dibayar dan dijawab terdakwa tunggakan pada suplayer yang menggunakan debt collector sebesar Rp 700 juta sedangkan tunggakan keseluruhan dari Perusahaan sebesar Rp 6 milyar.

"Selanjutnya terdakwa meminta uang pribadi Gunawan sebesar Rp 5,6 milyar dengan janji akan dikembalikan dan akan segera membuat laporan keuangan dan laporan rekening Bank milik PT BCM," ujar Sumantri.

Pada 2 Maret 2016, Debt Collector dari suplayer datang kembali untuk melakukan penagihan atas tagihan yang sama. Sehingga saat itu Gunawan menegur terdakwa. "Tempo hari sudah minta uang pribadi dan sudah saya kasih Rp 5,6 milyar tetapi kenapa tagihan masih belum dibayar juga? Dan dijawab terdakwa, sudahlah itu urusan saya dan kakak saya Agus Suhendro yang pasang badan".

Saksi Gunawanpun bertanya, uang kemarin digunakan untuk apa? Dijawab untuk keperluan lainnya. Namun tidak dijelaskan secara rinci sehingga Gunawan meminta terdakwa mempertangungjawabkan laporan keuangan dan laporan rekening Bank milik PT BCM dan meminta uang pribadi Gunawan sebesar Rp 5,6 milyar dikembalikan.

Setiap saksi Gunawan bertanya hasil laporan keuangan ke terdakwa selalu terdakwa menjawab kenapa tidak percaya pada isterinya. Terdakwa malah meminta uang sebesar Rp 8,5 milyar dan dipenuhi permintaan tersebut dan terdakwa berjanji akan membuat laporan keuangan.

"Nanti kalau sudah ada uang pikiran jadi tenang dan baru tenang kalau membuat laporan keuangan," ujarnya.

Saksi Gunawan kemudian menyatakan setiap saat perusahaan selalu ada uang masuk dan keluar dan itu harus dipertanggungjawabkan oleh Dirut namun kenyataannya setelah uang diterima tidak pernah membuat dan menyerahkan laporan keuangan pada saksi Gunawan.

Pada 7 Juni 2016 saksi Gunawan membuat permintaan tertulis mengenai laporan keuangan mulai tahun 2013 sampai 2016 (keluar masuk uang) baik dalam perusahaan property maupun Empire Palace. Namun tetap tidak dibuat oleh terdakwa, bahkan terdakwa malah marah-marah dan bersikukuh tidak membuatnya.

Pada 4 Juli 2016 sekitar pukul 20.30 Wib terdakwa mengambil suatu barang berupa dokumen milik BCM dengan menyuruh karyawannya dengan membawa lima kardus yang ditutup parcel dan dibawa dengan menggunakan honda jazz warna putih yang dikemudikan oleh Beni Candra menuju Apartemen Guna Wangsa dan disimpan di dalam kamar 806 B.

Akhir Juni 2016, saksi Beni Candra juga disuruh terdakwa membawa dokumen berupa 6 kontainer plastik warna orange, 9 kontainer plastik warna biru, 5 warna hijau, 3 unit CPU, 10 kardus klub dan masih banyak lagi yang semuanya berisi dokumen.

Atas perbuatannya terdakwa dijerat pasal 367 ayat 2 KUHP jo 363 ayat 1 ke 3 KUHP atau pasal 376 KUHP jo 374 KUHP. [uci/suf]

Komentar

?>