Rabu, 27 September 2017

Suran Agung

Keputusan Menggunakan Roda Empat Final, Jika Nekat Ini Yang Akan Terjadi

Rabu, 13 September 2017 20:40:44 WIB
Reporter : Pramita Kusumaningrum
Keputusan Menggunakan Roda Empat Final, Jika Nekat Ini Yang Akan Terjadi
ilustrasi suran agung tahun lalu

Madiun (beritajatim.com) - Keputusan tentang penggunaan roda empat saat Suran Agung, 8 Oktober 2017 mendatang rupanya sudah final. Bahkan tidak hanya suran agung, namun juga nyekar sesepuh di Madiun, 20-21 September 2017 mendatang, pendekar juga harus menggunakan roda empat.

"Keputusannya sudah final. Polres se Korwil Madiun sudah sepakat. Tentu dengan para perguruan silat di Madiun yang mengadakan kegiatan nyekar maupun suran agung," kata Kapolres Madiun Kota, AKBP AKBP Sonny Mahar Budi Adityawa.

Dia mengaku, akan melakukan penyekatan di perbatasan. Walaupun sudah ada penyekatan sendiri oleh masing-masing polres.

Jika, lanjut dia, ada kenekatan pendekar atau anggota tertentu menggunakan roda dua akan balik kanan dengan tangan kosong. "Tidak akan ada pendekar bisa masuk. Akan ada penyekatan," katanya.

Dia berharap, para pendekar atau pesilat paham. Karena menurutnya, dengan menggunakan roda dua banyak mudaratnya daripada untungnya.

Sementara, untuk masalah atribut, Sony menjelaskan masih tahap pembicaraan. Apakah nanti boleh digunakan jauh sebelum lokasi. Atau baru boleh digunakan sebelum di lokasi.

Diberitakan sebelumnya, Keputusan baru dikeluarkan oleh aparat penegak hukum se bakorwil Madiun. Untuk kegiatan Suran Agung yang biasa terpusat di Madiun Kota, akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

"Sudah ditetapkan, Suran Agung kali ini para pendekar dilarang menggunakan roda dua. Diwajibkan menggunaan roda empat semua," kata Kabag Ops Polres Ponorogo, Kompol Abd Mukti kepada beritajatim.com, Selasa (12/9/2017).

Dia mengatakan, roda empatnya pun harus ada tutupnya. Jadi tidak boleh roda empat terbuka. "Dilarang keras menggunakan roda dua. Nanti akan ada sweping di perbatasan-perbatasan. Jika di Ponorogo, sweping di perbatasan Wonogiri, Pacotan, Trenggalek dan Madiun sendiri," katanya.

Hal itu, lanjut dia, mengurangi kecelakaan lalu lintas. Harapannya jika dijadikan satu akan lebih aman. Dan tidak ugal-ugalan. Pun, untuk pakaian, pendekar dari perguruan manapun dilarang memakai atribut selama perjalanan. Nantinya boleh dipakai jika sudah ada di lokasi. "Atribut juga akan disweping. Karena sudah kesepakatan bersama. Jadi yang melintas wilayah Ponorogo harap diperhatikan," pungkasnya (mit/kun)

Tag : suran agung

Komentar

?>