Rabu, 17 Oktober 2018

Kang Samsul Telah Pergi

Kamis, 18 September 2014 07:27:19 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Kang Samsul Telah Pergi
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Ada dua kabupaten di Eks Karesidenan Besuki, Jawa Timur, yang memiliki bupati dengan nama mirip pada periode 2000-2005. Samsul Hadi memimpin Kabupaten Banyuwangi dan Samsul Hadi Siswoyo menjadi orang nomor satu di Kabupaten Jember.

Langkah kebijakan strategis mereka mirip. Nasib mereka pun tak berbeda jauh satu sama lain. Namun Samsul Hadi mendahului rekannya menghadap Tuhan, Selasa (16/9/2014) dini hari.

Kang Samsul, demikian sapaan akrabnya, masuk rumah sakit sejak hari Minggu (14/9/2014) pukul 23.00. Tensi darah dan gula darahnya naik dan terjadi pembengkakan jantung, serta ada cairan di paru-paru. Ia meninggal dunia pukul satu dini hari di Rumah Sakit Daerah Blambangan, Banyuwangi.

Samsul Hadi dan Samsul Hadi Siswoyo adalah kepala daerah produk era Reformasi. Mereka dipilih DPRD tingkat kabupaten hasil pemilu 1999. Saat memimpin, dua Samsul itu memiliki kesamaan obsesi terhadap bandar udara. Mereka percaya, bahwa untuk membangkitkan perekonomian daerah, perlu ada akses transportasi udara.

Banyuwangi selama ini sudah setengah komplit dalam urusan transportasi. Daerah ini memiliki pelabuhan dan menjadi pintu menuju Bali. Banyuwangi juga dilintasi kereta api dan tentu saja bus. Namun penerbangan tetap dibutuhkan, mengingat jauhnya jarak tempuh Banyuwangi dari Surabaya, yang bisa memakan waktu lebih dari 5-6 jam. Investor akan enggan datang jika sulit menjangkau Banyuwangi, sehebat apapun poteni kota itu.

Maka Samsul mulai merintis pembangunan bandara di kawasan Blimbingsari dan mengupayakan pemerintah pusat mau membantu. Visi Samsul sejalan dengan visi pemerintah pusat membuka daerah-daerah terisolasi. Maka dana dari anggaran pendapatan dan belanja negara pun mengalir.

Langkah Samsul Hadi meminta bantuan pemerintah pusat berbeda dengan Samsul Hadi Siswoyo di Jember. Pemkab Jember berupaya membangun bandara dengan APBD sendiri. Maka persaingan tak kasat mata dua daerah yang bertetangga itu pun dimulai.

Jember sempat memimpin dalam urusan prestisius ini, saat pada awal 2005, sebuah pesawat jenis Fokker mendarat di Bandara Notohadinegoro. Pesawat itu selain mengangkut Samsul Hadi Siswoyo, juga membawa Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid dan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. Namun pembangunan Bandara Notohadinegoro sempat terhambat, setelah Samsul gagal terpilih menjadi bupati Jember kembali.

Sementara itu, setelah Samsul lengser, pembangunan bandara diteruskan oleh dua bupati selanjutnya yakni Ratna Ani Lestari dan Abdullah Azwar Anas. Saat Bandara Notohadinegoro di Jember tak jelas nasibnya, bandara di Banyuwangi diresmikan pada 2 Mei 2011. Sebuah pesawat Fokker-50 mendarat di sana. "Pemimpin hari ini harus menghargai jasa pemimpin sebelumnya,"kata Anas.

Namun Samsul Hadi adalah contoh kompleksitas manusia. Putih dan hitam. Terang dan gelap. Lepas dari posisi bupati, ia terjerat tiga kasus dugaan korupsi. Tahun 2007, ia divonis empat tahun penjara dalam kasus korupsi pengadaan dua kapal landing craft tank senilai Rp 15,5 miliar.

Tahun 2008, Samsul divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 100 juta dalam kasus pengadaan galangan kapal senilai Rp 25,5 miliar. Dua tahun kemudian, dia kembali divonis 6 tahun dan denda Rp 50 juta dalam kasus pengadaan lahan Bandara Banyuwangi senilai Rp 21,2 miliar.

Namun kompleksitas Samsul ini yang di mata Eko Suryono membuat pria kelahiran 23 April 1959 ini layak dihargai dan dikenang. "Saya merasa kehilangan, walau hubungan saya dengan beliau pasang-surut," kata jurnalis yang sekarang menjabat ketua Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Banyuwangi ini.

Samsul dikenal blak-blakan saat berbicara. Ia mudah akrab dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Salah satu hal yang membuatnya dicintai rakyat adalah kemampuannya berbahasa Using. Using sebenarnya kelompok minoritas di Banyuwangi. Namun kelompok ini menjadi penanda dan identifikasi Banyuwangi. Berbahasa Using menjadi penanda ke-Banyuwangi-an seseorang.

"Pak Samsul ringan tangan untuk membantu tanpa harus diketahui orang banyak. Kebangkitan saya berkarir di jurnalistik televisi akhir 2000 juga tidak terlepas dari jasa beliau," kata Eko.

Eko menilai Samsul adalah tumbal pembangunan Banyuwangi. "Bandara Blimbingsari, kapal feri Sri Tanjung, dok apung, semua adalah kebijakannya yang luar biasa. Beliau membangkitkan semangat kecintaan terhadap Banyuwangi melalui lagu daerah Umbul-umbul Blambangan. Jadi jasa beliau luar biasa bagi Banyuwangi, sehingga wajar bila warga Banyuwangi sangat kehilangan," katanya.

Manusia mati meninggalkan nama dan jasa. Mungkin dengan itu, Samsul bisa hidup seribu tahun lagi sebagaimana diinginkan Chairil Anwar. [wir]

Tag : banyuwangi

Komentar

?>